Belajar Bersyukur

Suatu hari saat menjelang lebaran. Sebuah rumah sedang kedatangan tamu pasangan muda dengan anaknya yang baru berumur 2,5 tahun.

Pemilik rumah: Ini, ada angpao buat ade. (Sambil menyerahkan amplop kecil bergambar lucu yang berisi uang sekadarnya)
Anak: (mata berbinar, menerima amplop itu dengan raut wajah sumringah yang menggemaskan)
Ibu sang anak: Bilang apa, Nak?
Anak: Maacih (dengan logat cadel)
Ibu dan pemilik rumah: (tersenyum)
Anak: Ni apa, Bu? (Dengan logat cadel, sambil membolak-balik amplop yg “asing” menurutnya, masih dengan wajah sumringah)
Ibu dan pemilik rumah: (tertawa)

Walaupun si anak tidak tahu angpao itu sebenarnya benda apa, apa isinya, bagaimana menggunakannya, tapi dia tetap sumringah. Karena dia berpikir sederhana; dia mendapatkan sesuatu dari seseorang yang dikenal oleh orang tuanya dan dia senang. Andai bisa selalu berpikir seperti ini pada setiap hal yang diberikan olehNya. Semoga kita selalu bisa bersyukur atas semua pemberiaNya.

Posted from WordPress for Android

[FF] Gadis dan Bapak Tua

Suatu sore, di depan sebuah universitas terkemuka di ibukota. Seorang gadis sedang menunggu bis untuk pulang ke rumahnya. Tangan kanannya memegang payung, sedangkan yang kiri memeluk tas laptopnya. Di bahu kanannya tersampir tas selempang yang menambah beban bawaannya.

Hujan deras sudah turun dari tadi dan belum ada tanda akan berhenti. Sepatu dan rok gadis itu mulai kuyup. Beruntung bis yang ditunggu akhirnya tiba. Gadis itu segera beranjak dari tempatnya., berdesakan dengan penumpang lain yang memiliki tujuan yang sama.

Hap! Gadis berhasil naik ke dalam bis. Kerepotan dia menutup payungnya. Namun tak lama, ada seorang bapak tua yang menggeser posisi duduknya supaya si gadis bisa duduk di sebelahnya. Tidak hanya itu, bapak tua itu juga membantu melipat payungnya.

Akrablah si gadis dengan bapak tua itu. Sepanjang perjalanan bapak tua itu banyak berkisah: tentang masa mudanya, tentang keluarganya, tentang pelajaran hidup. Bahwa hidup itu harus diperjuangkan, bahwa hidup tidak pantas untuk dikeluhkan, bahwa nikmatNya jauh lebih banyak dari yang kita sadari.

Seperti biasa, si gadis selalu menjadi pendengar yang baik, sesekali mengangguk, menanggapi, dan tersenyum. Tapi dengan begitu dia jadi dapat banyak pelajaran dan renungan. Betapa selama ini dia sangat kurang bersyukur, betapa selama ini dia terlalu sering mengeluh, betapa selama ini dia terlalu mudah menyerah. Gadis pun bertekad akan menjalani hidup dengan lebih baik.

Allah memberikan hikmah dan pelajaran lewat setiap peristiwa. Semoga kita bisa memetik hikmah dari setiap peristiwa yang kita alami dan menjadikannya semangat untuk selalu memperbaiki diri dalam menjalani kehidupan.

Idealisme VS Realita

Bismillah.

Hari ini ina pergi ke sebuah instansi di Jakarta. Biasa, mencoba mengadu nasib, siapa tahu berjodoh di sana. Hehe. Di sms pemberitahuannya, agenda hari ini adalah mengambil nomor tes dan penjelasan mengenai tata cara lamaran (mulai dari berkas, waktu tes, dan segala macamnya). Dengan ditemani laki-laki paling hebat sedunia (baca: Abi), ina sampai di tempat itu sekitar jam 10. Ternyata antrian sudah panjang. Ina dapet nomor tes 212, kayak kapaknya Wiro Sableng ya. Hehe.

Sambil menunggu antrian untuk daftar dan mengambil formulir, ina melihat sekeliling. Banyak juga yang datang melamar. Saat sedang melihat-lihat, tatapan ina terhenti pada sosok berjilbab yang tidak asing. Seperti pernah lihat di mana gitu. Dan ternyata benar. Setelah diingat-ingat, ina pernah ketemu dia di salah satu acara kampus. Waktu itu ina jadi panitia dan dia jadi peserta, tapi sekarang keadaannya berbalik, dia panitia tes penerimaan karyawan baru dan ina peserta.

Tapi ada yang berubah darinya. Seingat ina, dulu dia berjilbab panjang, berbaju panjang dan rok panjang yang lebar. Sekarang jilbabnya masih masih cukup panjang, baju atasannya pun panjang, tapi roknya berganti jadi celana panjang. Kenapa bisa berubah ya? Apa kerja di sini tidak boleh pake rok? Terus kalo tetap bersikeras memakai rok apa tidak akan diterima? Bermacam pertanyaan mulai muncul di pikiran ina.

Realita memang tidak selalu sejalan dengan idealisme yang kita anut. Dan saat itulah kita harus memilih, akan tetap teguh dengan idealisme kita atau pasrah dengan realita yang ada. Memang banyak instansi yang melarang karyawannya mengenakan rok panjang, bahkan melarang mengenakan kerudung. Tapi kita bisa memilih kan? Selama idealisme yang kita anut berlandaskan perintah-Nya, hal itu sangat layak untuk kita perjuangkan. Tidak perlu takut nggak dapet kerja karena kita kekeuh pada prinsip kita. Toh Dia yang Maha Pemberi Rezeki. Selama cara kita baik dan sesuai jalur, insyaAllah tidak akan disia-siakan oleh-Nya. Semoga Allah selalu memberi kekuatan kepada kita untuk bisa istiqomah di jalan-Nya. Aamiin.

Datang dan Pergi

Dua hari yang lalu, ina mendapat kabar bahwa ayah salah satu teman ina meninggal dunia karena kanker saluran getah bening. Innalillahi wainna ilaihi roji’un..

Ya Allah, ina membayangkan bagaimana perasaan teman ina itu. Pasti sangat kehilangan. Bulan Ramadhan ini akan menjadi Ramadhan pertama tanpa ayah di sampingnya. Saat wisuda pun tak kan ada ayah yang tersenyum penuh kebanggaan melihat putrinya memakai toga. Pun tak kan ada ayah yang berkaca-kaca bahagia di hari pernikahannya kelak.

Setelah mendengar berita ini, ina pun merenung. Telah siapkah ina saat orang-orang yang ina cintai dipanggilNya?? Berkaca pada hati yang paling dalam, sungguh, ina belum siap, Ya Rabb. Ina belum sempat membalas kebaikan Ummi dan Abi, walau ina tahu kebaikan mereka tidak akan mungkin terbalaskan secara penuh.

Karena itu, Ya Rabb, ina mohon dengan segala nama yang Kau miliki, tolong jagalah Ummi dan Abi dikala penjagaan ina tak sampai pada mereka. Sayangilah mereka dikala rasa sayang ina tak sanggup merengkuh mereka dalam dekapan nyata. Karena Kau punya segala yang tidak ina punya. Dan karena ina tahu, hanya dengan bergantung padaMu-lah tidak akan ada rasa kecewa.

Teringat perkataan seorang teman sebelum dia pergi (dulu pernah ina post di sini). “Setiap kita pasti akan kehilangan. Kita mungkin akan kehilangan teman, sahabat, adik, kakak, dan juga orang tua. Mereka mungkin hanya mampir sesaat dalam kehidupan kita. Ketika mereka pergi, kita pun akan merasa kehilangan. Dari sana kita dapat pelajaran: berbuat baik pada orang yg kita temui sekarang adalah lebih baik dibandingkan kita terus merindukannya ketika dia sudah pergi. Lalu, akan datang orang2 baru yg akan memberi warna di kehidupan kita. Mereka datang dan pergi. Kita pasti berharap mereka akan pergi dg perasaan yg bahagia dan mungkin mereka akan terus merindukan kita. Dan ketika mereka pergi, kita juga harus berdoa supaya kita dan mereka bisa kembali berkumpul bersama di surga yg abadi; sebuah tempat yg tidak ada datang dan pergi.”

Semoga kita selalu bisa memanfaatkan setiap kesempatan yang ada. Sayangi orang di sekitar kita sebelum terlambat dan akhirnya kita menyesal. Karena penyesalan tidak akan pernah mengubah keadaan.

“Never take someone for granted. Hold every person close to your heart. Because you might wake up one day and realize that you’ve lost a diamond while you were too busy collecting stones” (Unknown)

Panggilan Sayang

Hari ini saya kesal..
Kenapa? Alasan yang sepele sebenarnya.. Karena sebuah panggilan..
Ya, sebuah panggilan, sebuah nama yang digunakan beberapa teman untuk memanggil saya..

Kekanak-kanakan?? Mungkin. Tapi saya memang tidak suka dengan panggilan itu. Saya sudah pernah mencoba membicarakan ketidaksukaan saya ini kepada teman saya. Tapi mereka berdalih, “Itu kan panggilan “sayang”, Na.”. Tapi entah kenapa, saya tidak merasakan rasa “sayang” di panggilan itu.

Akhirnya, saya mencoba untuk menerima. Mungkin benar, itu cara mereka mengekspresikan rasa sayang kepada saya. Mungkin saya saja yang terlalu sensitif. Saya pun mulai mencoba menerima dengan lapang dada, mencoba tersenyum ketika dipanggil dengan panggilan itu. Tapi sangat sulit. Sampai sekarang pun masih ada rasa kesal terselip kalau ada teman yang memanggil dengan panggilan itu.

Pada kajian beberapa hari yang lalu, dibahas mengenai perkara lisan-lisan yang berdosa. Ternyata, betapa mudahnya kita menyakiti hati saudara kita dengan kata-kata, bahkan yang kita anggap baik. Saya jadi berpikir, mungkin selama ini saya juga banyak salah, memanggil seseorang dengan panggilan yang tidak dia sukai. Jadilah saya juga dipanggil dengan panggilan yang saya benci. Astaghfirullah, semoga Allah mau mengampuni saya.

So, untuk teman-teman yang saya sayangi karena Allah, saya hanya ingin sedikit mengingatkan (terutama kepada diri saya sendiri). Panggillah saudara/teman/sahabatmu dengan panggilan yang dia sukai.. Jangan memanggilnya dengan panggilan yang akan membuatnya sedih, bahkan sakit hati, walaupun kita meniatkan panggilan itu sebagai panggilan “sayang”.. Karena sesungguhnya, menyayangi itu adalah dengan menyenangkan hatinya, bukan menyakitinya..

Menjadi Dewasa..

Waktu masih kecil, rasanya pengen banget jadi besar. Seorang anak TK ketika ditanya apa keinginannya saat ini, menjawab dengan mata berbinar, “Aku mau masuk SD.” Saat SD, tidak sabar rasanya ingin masuk SMP. Saat SMP, ingin segera merasakan jadi anak SMA. Saat SMA, selalu berdoa supaya cepat menyandang gelar mahasiswa, lalu kemudian kerja dan hidup mandiri.

Namun saat hendak menuju gerbang kehidupan yang sesungguhnya, kadang terbersit sebuah pikiran, alangkah enaknya kalau tetap seperti dulu. Tetap menjadi seorang gadis kecil yang tak perlu pusing memikirkan problematika kehidupan. Bisa selalu bermain, melakukan semua hal yang disukai, tanpa takut disalahkan oleh orang lain.

Menjadi tua adalah sebuah keniscayaan, menjadi dewasa adalah sebuah pilihan. Sebuah kalimat yang mungkin berhasil menyadarkan beberapa orang kalau kedewasaan itu tidak akan muncul dengan sendirinya, melainkan sebuah pilihan hidup dan harus diperjuangkan. Teringat perkataan seseorang yang lebih tua saat saya bertanya mengapa mau berteman dengan orang yang masih kecil (ketika itu usia saya baru 15 tahun).

Dia menjawab, “Ina yang baik, ina tuh bukan anak kecil lagi. Lima belas tahun itu sudah termasuk tua. Di pelosok Jawa sana, umur lima belas tahun sudah pada punya anak. Mereka sudah merasa dewasa. Tahu kenapa? Sebab mereka ‘merasa’ sudah dewasa dan punya tanggung jawab. Jadi, jangan pernah bilang kalau Ina masih kecil, tapi tanamkan kalau Ina sudah dewasa. Biasanya mereka yang dewasa bercirikan: tidak emosional, rasional, punya rasa tanggung jawab, bisa mengayomi orang lain, dan sebagainya. So, jadilah seseorang yang dewasa. Jangan jadi ‘Baby Hue’ yang badannya gede tapi masih bayi.”

Dulu perkataan ini hanya seperti angin lalu. Tapi saat ini saya baru menyadari bahwa kata-katanya benar. Saya tidak akan pernah menjadi dewasa kalau saya tidak pernah merasa dewasa dan tidak mau menanamkan di pikiran saya kalau saya sudah dewasa. Kalau orang lain bisa, mengapa saya tidak?? Semoga saya bisa menjadi orang dewasa yang baik..