Belajar Bersyukur

Suatu hari saat menjelang lebaran. Sebuah rumah sedang kedatangan tamu pasangan muda dengan anaknya yang baru berumur 2,5 tahun.

Pemilik rumah: Ini, ada angpao buat ade. (Sambil menyerahkan amplop kecil bergambar lucu yang berisi uang sekadarnya)
Anak: (mata berbinar, menerima amplop itu dengan raut wajah sumringah yang menggemaskan)
Ibu sang anak: Bilang apa, Nak?
Anak: Maacih (dengan logat cadel)
Ibu dan pemilik rumah: (tersenyum)
Anak: Ni apa, Bu? (Dengan logat cadel, sambil membolak-balik amplop yg “asing” menurutnya, masih dengan wajah sumringah)
Ibu dan pemilik rumah: (tertawa)

Walaupun si anak tidak tahu angpao itu sebenarnya benda apa, apa isinya, bagaimana menggunakannya, tapi dia tetap sumringah. Karena dia berpikir sederhana; dia mendapatkan sesuatu dari seseorang yang dikenal oleh orang tuanya dan dia senang. Andai bisa selalu berpikir seperti ini pada setiap hal yang diberikan olehNya. Semoga kita selalu bisa bersyukur atas semua pemberiaNya.

Posted from WordPress for Android

Hakikat Rezeki

Suatu hari, seorang ayah sedang berbincang santai dengan istri dan anak-anaknya. Saat berbincang santai itu biasanya sang ayah akan menanamkan hal-hal baik yang sederhana tentang kehidupan. Begitu juga dengan hari itu. Sang ayah berbicara tentang hakikat rezeki.

“Rezeki itu nggak cuma berbentuk harta yang melimpah. Punya istri yang bisa mengurus keuangan rumah tangga dengan baik, walaupun uang yang dia kelola tidak banyak; itu rezeki. Punya anak-anak yang sehat dan jarang sakit, punya anak-anak yang cerdas dan lancar pendidikannya; itu rezeki. Punya rumah yang nyaman, suasana rumah yang menyenangkan, meskipun mungil; itu rezeki. Punya kendaraan yang baik, jarang mogok, meski tidak mewah; itu rezeki. Punya tetangga yang ramah dan selalu siap menolong; itu rezeki. Begitu banyak rezeki dan karuniaNya untuk kita. Dan tugas kita ada dua, sabar dan syukur.”

***

*Uhibbuka fillah, Ya Abii.. :)