Semua Telah Tertulis

“Tiada suatu bencana pun yang menimpa di bumi dan (tidak pula) pada dirimu sendiri melainkan telah tertulis dalam kitab (Lauhul Mahfuzh) sebelum Kami menciptakannya. Sesungguhnya yang demikian itu adalah mudah bagi Allah. (Kami jelaskan yang demikian itu) supaya kamu jangan berduka cita terhadap apa yang luput dari kamu, dan supaya kamu jangan terlalu gembira (yakni: gembira yang melampaui batas yang menyebabkan kesombongan, ketakaburan dan lupa kepada Allah) terhadap apa yang diberikan-Nya kepadamu. Dan Allah tidak menyukai setiap orang yang sombong lagi membanggakan diri”

(QS. al-Hadid: 22-23).

Posted from WordPress for Android

Sungguh, Kau Lebih Indah dari Bidadari

Dari Ummu Salamah radhiyallahu ‘anha, ia berkata, “Saya bertanya, “Wahai Rasulullah, manakah yang lebih utama, wanita dunia ataukah bidadari yang bermata jeli?”

Beliau shallallahu’‘alaihi wa sallam menjawab, “Wanita- wanita dunia lebih utama daripada bidadari-bidadari yang bermata jeli, seperti kelebihan apa yang tampak daripada apa yang tidak tampak.”

Saya bertanya, “Karena apa wanita dunia lebih utama daripada mereka?”

Beliau menjawab, “Karena shalat mereka, puasa dan ibadah mereka kepada Allah. Allah meletakkan cahaya di wajah mereka, tubuh mereka adalah kain sutra, kulitnya putih bersih, pakaiannya berwarna hijau, perhiasannya kekuning-kuningan, sanggulnya mutiara dan sisirnya terbuat dari emas. Mereka berkata, ‘Kami hidup abadi dan tidak mati, kami lemah lembut dan tidak jahat sama sekali, kami selalu mendampingi dan
tidak beranjak sama sekali, kami ridha dan tidak pernah bersungut-sungut sama sekali. Berbahagialah orang yang memiliki kami dan kami memilikinya.’.” (HR. Ath Thabrani)

sumber hadits

Posted from WordPress for Android

Formasi 9-1 dan 7-2

Saya penasaran sekali apa di dunia nyata ada yang seperti Severus Snape atau seperti Pak Wayan? Tau kan gimana kisah keduanya. Berpuluh tahun ga bisa move on dari cintanya. Dududuw… Nah, konon katanya ya.. mekanisme laki-laki mengelola perasaannya emang beda sama wanita. Ada seorang pria yang pernah bilang ke saya,

“kalo dinilai dalam angka, perempuan kalo udah cinta sama laki-laki itu bisa sampai angka 9 dari skala 10, tapi begitu dia sampai dititik harus move on, perempuan bisa menekan rasa cintanya sampai angka 1 atau bahkan 0 atau bahkan minus. Beda sama laki-laki, mereka maksimal akan mencintai pada angka 7, tapi hanya bisa menekan rasa cintanya pada angka 2.”

Nah, dengan teori di atas, bisa jadi orang seperti Snape dan Pak Wayan itu sebenarnya memang ada. Laki-laki ga pernah bisa benar-benar mengusir nama seseorang dari hatinya. Serem aja ngebayanginnya ya.. mungkin karena sebab inilah, muncul kata-kata bijak,

“lebih baik bagi seorang wanita menikah dengan laki-laki yang mencintainya bukan dengan lelaki yang dicintainya. Sebaliknya, bagi laki-laki lebih baik baginya menikah dengan wanita yang dicintainya.”

Saya jadi teringat kata-kata Salim. A. Fillah

“menikahi orang yang kita cintai itu kebetulan, tapi mencintai orang yang kita nikahi itu kewajiban.”

Saya pernah baca tapi lupa dimana, kalo ada yang ingat tolong kasih tau saya ya.

Pada diri setiap wanita, terdapat satu nama yang tak pernah ia ucapkan. Dan pada diri seorang pria, terdapat satu nama yang tak pernah bisa ia miliki.

Oleh sebab itulah selalu berusaha meng-nol-kan hati itu penting. #ntms ^,^

sumber

Posted from WordPress for Android

[Celoteh Malam] Antara Cinta, Roja’ dan Khouf

Sungguh, dalam setiap aktifitas yang kita lakukan, pasti ada pelajar yang bisa dipetik. Andai saja kita mau merenungkannya. Seperti aktifitas malam ini. Sederhana, hanya menggoreng kerupuk untuk teman makan malam. Saat kompor baru dinyalakan, minyak belum panas, kerupuk tidak akan mengembang, sebagus apapun kualitas kerupuk yang kita goreng. Begitu pula saat api terlalu besar, minyak sudah terlalu panas, kerupuk akan menjadi gosong. Di situ lah seninya menggoreng kerupuk.

Lalu apa pelajarannya? Entah kenapa di pikiran saya tiba-tiba terlintas dua kata itu: roja’ dan khouf. Roja’ artinya harapan, sedangkan khouf artinya rasa takut. Dua rasa ini, ditambah dengan rasa cinta, penting dalam melaksanakan ibadah kepada Allah Ta’ala. Dan kadar keduanya harus diatur sedemikian rupa, tidak boleh terlalu sedikit juga tidak boleh berlebihan. Ya, segala sesuatu yang berlebihan memang tidak baik.

Syaikh Al ‘Utsaimin berkata: “Ketahuilah, roja’ yang terpuji hanya ada pada diri orang yang beramal taat kepada Allah dan berharap pahala-Nya atau bertaubat dari kemaksiatannya dan berharap taubatnya diterima, adapun roja’ tanpa disertai amalan adalah roja’ yang palsu, angan-angan belaka dan tercela.” (Syarh Tsalatsatu Ushul, hal. 58) Syaikhul Islam berkata: “Khouf yang terpuji adalah yang dapat menghalangi dirimu dari hal-hal yang diharamkan Allah. “Sebagian ulama salaf mengatakan: “Tidaklah seseorang terhitung dalam jajaran orang yang takut (kepada Allah) sementara dirinya tidak dapat meninggalkan kemaksiatan-kemaksiatan.” (Al Mufradaat fii Ghariibul Qur’an hal. 162 dinukil dari Hushuulul Ma’muul, hal. 79)

Pembahasan lebih lengkap tentang roja’ dan khouf  bisa teman-teman baca di sini ya..

Antara Roja’ dan Khouf (1)

Antara Roja’ dan Khouf (2)

Semoga bermanfaat. ^^

Nikah Muda

Beberapa percakapan di beberapa kesempatan. Kisah Anak-Ayah-yang-Masih-Jomblo (AAyMJ) menghadapi pertanyaan dari beberapa oknum.

Di sebuah dauroh
Oknum 1: Eh, tadi ketemu mba-mba gendong anak. Pas ngobrol ternyata umurnya sepantar kamu. Enak ya kalo nikah pas masih muda.
Oknum2: Kamu kapan? *kompor*
AAyMJ: Kapan ya? Hehe. *nyengir*
Continue reading

Perubahan

“Salahkah kalau aku ingin berubah?” Tanyaku padanya suatu hari, dengan mata berkaca.

Ia tersenyum, kemudian menjawab, “Tidak ada yang salah dengan perubahan. Namun sebelum berubah, ada baiknya kau jawab beberapa pertanyaan ini. Mengapa aku ingin berubah? Apakah aku perlu berubah? Kalau memang perlu berubah, perubahan seperti apa yang seharusnya aku lakukan? Akankah perubahan itu bertahan lama, atau hanya akan bertahan sesaat seiring meluapnya emosi? Dan yang terpenting, apakah perubahan itu dapat membuatku menjadi pribadi yang lebih baik? Aku doakan, semoga kau selalu menjadi pribadi yang berubah ke arah yang lebih baik.”

Posted from WordPress for Android

Renungan

Ketika situasi memburuk, ketika semua terasa berat dan membebani, maka jangan pernah merusak diri sendiri…!!!

Daun yang jatuh tak pernah membenci angin… Dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan. Mengikhlaskan semuanya. Tak ada yang perlu disesali. Tak ada yang perlu ditakuti. Biarkan dia jatuh sebagaimana mestinya. Biarkan angin merengkuhnya, membawanya pergi entah ke mana.

“Bahwa hidup harus menerima… penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti… pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami… pemahaman yang tulus. Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, dan pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan.”

(Tere Liye – Daun yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin)

Aku (Harus) Memilih

Aku pemilih? Mungkin.
Karena aku ingin yang terbaik.
Terbaik versi-Nya tentu saja. Bukan versiku, versi orang tuaku, atau versi orang kebanyakan.
Karena yang “kebanyakan” itu belum tentu benar. Yang benar pun belum tentu dianggap benar oleh yang “kebanyakan”.

Aku pemilih? Memang.
Karena aku tak ingin hidupku sia-sia. Mengejar sesuatu yang bahkan Rabb-ku pun tidak menyukainya. Menggadaikan agamaku hanya untuk pemuasan diri semata. Mengejar prestise, supaya dianggap orang berhasil. Padahal mungkin tidak bernilai di mata-Nya.

Aku pemilih? Tentu.
Karena aku tidak ingin menyesal. Tidak di dunia, apalagi di akhirat. Walau tak jarang, komitmenku diuji. Keteguhhan prinsipku ditantang, dengan banyaknya godaan yang datang. Kalau tidak ingat pada-Mu, Ya Rabb, mungkin aku sudah jatuh tergugu. Menangisi semua peluang yang kutolak, demi diri-Mu.

Aku pemilih? Pasti.
Karena Dia pun memilih. Karena hanya yang terpilih yang akan berkesempatan bertemu dengan-Nya nanti. Dan aku ingin menjadi salah satunya.

Satu yang aku yakini, pasti ada yang terbaik itu. Terbaik untukku dan agamaku. Serahkan saja pada-Nya. Karena di tangan-Nya, semua akan baik-baik saja.

Hakikat Kebahagiaan

“Itulah hakikat sejati kebahagiaan hidup, Dam. Hakikat itu berasal dari hati kau sendiri. Bagaimana membersihkan dan melapangkan hati, bertahun-tahun berlatih, bertahun-tahun belajar membuat hati lebih lapang, lebih dalam, dan lebih bersih. Kita tidak akan pernah merasakan kebahagiaan sejati dari kebahagiaan yang datang dari luar hati kita. Hadiah mendadak, kabar baik, keberuntungan, harta benda yang datang, pangkat, jabatan, semua itu tidak hakiki. Itu datang dari luar. Saat semua itu hilang, dengan cepat hilang pula kebahagiaan. Sebaliknya rasa sedih, kehilangan, kabar buruk, itu semua juga datang dari luar. Saat semua itu datang dan hati kau dangkal, hati kau seketika keruh berkepanjangan.

“Berbeda halnya jika kau punya mata air sendiri di dalam hati. Mata air dalam hati itu konkret, Dam. Amat terlihat. Mata air itu menjadi sumber kebahagiaan tidak terkira. Bahkan ketika musuh kau mendapat kesenangan, keberuntungan, kau bisa ikut senang atas kabar baiknya, ikut berbahagia, karena hati kau lapang dan dalam. Sementara orang-orang yang hatinya dangkal, sempit, tidak terlatih, bahkan ketika sahabat baiknya mendapatkan nasib baik, dia dengan segera iri hati dan gelisah. Padahal apa susahnya ikut senang.

“Itulah hakikat kebahagiaan sejati, Dam. Ketika kau bisa membuat hati bagai danau dalam dengan sumber mata air sebening air mata. Memperolehnya tidak mudah, kau harus terbiasa dengan kehidupan bersahaja, sederhana, dan apa adanya. Kau harus bekerja keras, sungguh-sungguh, dan atas pilihan sendiri memaksa hati kau berlatih.

…”

Ayah [Ayahku (Bukan) Pembohong – Tere Liye]