NikmatNya yang mana (lagi) yang akan kau dustakan??

Beberapa waktu terakhir ini sering banget deh lihat meme di medsos yang mem-bully Bekasi. Ya ngeluh panas lah, jalanan rusak lah, macet lah. Sebagai warga Bekasi, saya agak merasa sedih juga pas baca tulisan-tulisan itu. Satu sisi, sedih karena kota tempat saya tumbuh besar digambarkan sebegitu uninhabitable-nya. Di sisi lain juga sedih karena beberapa keluhan itu juga pernah saya rasakan, dan sepertinya keadaan memang makin memburuk akhir-akhir ini.

Mungkin Bekasi memang perlu sedikit berbenah. Sekarang saat saya ke Bekasi sudah jarang sekali saya lihat ada ruang terbuka hijau, atau taman kota gitu. Yang makin banyak malah apartemen, mall, dan gedung-gedung yang saya tidak tahu itu untuk apa.

Tapi meskipun begitu, saya tetap cinta Bekasi. Sekarang pun lagi cari rumah di Bekasi. Biarlah orang mau bilang apa tentang Bekasi. Kalau ada yang nggak betah tinggal di Bekasi, yuk sini coba bertukar tempat dengan saya di sini. Pasti akan jadi lebih bersyukur bisa tinggal di Bekasi. Seperti saya, baru merasakan nikmatnya tinggal di Bekasi ya setelah pindah ke Dumai ini.

Apa dengan punya pikiran seperti ini saya jadi nggak bersyukur tinggal di Dumai? Ya, kalau saya membandingkannya dengan Bekasi, jelas saya pasti akan mengeluh dengan keadaan di sini. Tapi saya coba membandingkannya dengan keadaan teman saya, yang ditempatkan dinas di sebuah pulau kecil di timur Indonesia. Yang mau pulang ke Bekasi saja harus transit bandara beberapa kali. Sedangkan dari sini saya bisa naik pesawat langsung ke Bandara Halim, cuma jarak setengah jam dari Bekasi. So, nikmatNya yang mana yang akan saya dustakan? Semua cuma soal mindset. :)

Alhamdulillahilladzi bini’matihi tatimmushshalihaat
(“Segala puji bagi Allah, dengan nikmat-Nyalah segala kebaikan menjadi sempurna.”)

by Ina Ummu Umar

Enjoy the Moment

Hello! Aloha! Akhirnya saya nge-blog lagi. *elap debu, bersihin sarang laba-laba* #fiuh

Alhamdulillah, kehidupan baik-baik saja di Dumai sini. Walaupun aliran air di kran makin kecil aja dari hari ke hari. Well, tetep harus bersyukur kan, setidaknya masih bisa mandi sehari sekali. *ga ada air apa males mandi?!* :D

Nggak kerasa Umar udah mau 11 bulan. Alhamdulillah nggak rewel makannya, dikasih apa aja mau (ini sih turunan kayaknya :D). Udah mulai melangkah sendiri walaupun belum lancar. Sempat khawatir pas usia 9 bulan Umar belum bisa melangkah sendiri, baru bisa berdiri beberapa detik aja. Soalnya saya dulu udah bisa jalan di usia 9 bulan, usia 1 tahun udah lari-lari (#duh!). Tapi setiap anak punya waktu berkembang masing-masing kan? So, santai aja. Just enjoy the moment. Ambil hikmahnya, jadi belum perlu lari-lari ngejar Umar kan? Hihi.

Umar juga udah punya 2 gigi seri bawah lho. Kalo neneknya bilang kayak cepot, hihi. Masalah gigi ini juga sempat bikin saya khawatir. Soalnya pas imunisasi ketemu anak sepantaran Umar, cewek, giginya udah 4 dooong. Yaa, lagi-lagi, just enjoy the moment. Gigi akan tumbuh pada waktunya kok. Ambil hikmahnya aja, proses menyusui masih aman tanpa takut tergigit (walau sekarang udah mulai sering tergigit, hiks).

Well, segini dulu update-nya ya. Kapan-kapan disambung lagi. Keep writing, keep inspiring! :)

by Ina Ummu Umar

Terima Kasih, Cinta

Membesarkan seorang bayi ternyata tidak melulu seasik yang dulu saya bayangkan. Dulu saat hamil imajinasi saya membayangkan bahwa mengurus bayi itu pasti menyenangkan. Senyumnya, tawanya, celotehannya, bahkan tangisannya akan jadi satu hal yang menggemaskan.

Ternyata itu semua tidak sepenuhnya benar, meskipun tidak juga sepenuhnya salah. Mengurus bayi itu ternyata juga melelahkan, fisik dan pikiran. Waktu tidur yang berkurang, badan pegal-pegal, bekas luka operasi yang kadang masih nyut-nyutan, rasanya komplit apalagi ditambah suara tangis bayi yang tak kunjung diam.

Dulu setelah melahirkan saya sempat merasa trauma mendengar tangisan bayi. Tangisan bayi ibarat alarm yang menandakan saya harus terjaga dan pasti akan merasa lelah. Belum lagi bayi saya bukan tipe bayi yang mudah ditenangkan, mudah mengamuk, tidurnya sebentar, menyusu pun selalu lama, bisa sampai 2 jam sekali menyusu (dan saya baru sadar kalau ini karena tongue tie, kapan-kapan insyaAllah akan saya ceritakan tentang tongue tie ini)

Bukan. Saya bukan hendak mengeluh. Saya hanya ingin introspeksi. Mencoba belajar melihat dari sudut pandang lain. Dari banyak hal yang menurut saya tidak enak itu, ada banyak hal yang bisa harus disyukuri. Alhamdulillah saya punya ibu yang begitu baik dan perhatian. Beliau selalu membantu saya mengurus Umar di 3 bulan pertama kehidupannya. Alhamdulillah juga saya punya suami yang rela mengambil alih sebagian pekerjaan rumah. Jaga mereka selalu, Ya Rabbi.

Terima kasih Umar sayang, telah hadir di hidup Ummi. Kamu adalah guru praktek terbaik dalam kehidupan Ummi. Praktek tentang kesabaran. Bahwa sabar seharusnya tak berbatas, terlebih kesabaran ibu kepada anaknya. Kamu juga yang memaksa mendidik Ummi untuk menjadi lebih dewasa, mengajarkan Ummi untuk bisa lebih mengontrol emosi (karena Ummi takut ASI Ummi jadi seret kalo moody-an). Saat semua Ummi lakukan dengan ikhlas dan hanya mengharap ridho-Nya, alhamdulillah semua jadi terasa ringan. Semoga Ummi bisa menjadi seorang ibu yang baik untukmu ya. :)

Posted from WordPress for Android by Ina Ummu Umar

Ya Rabb, Terima Kasih

Ya Rabb, terima kasih Engkau telah memilihnya untukku. Seseorang yang Engkau takdirkan untuk mendampingiku. Seseorang yang mencintaiku apa adanya. Seseorang yang berusaha sekuat tenaga untuk meyakinkan orang tuanya kalau pilihannya insyaAllah yang terbaik. Seseorang yang begitu senang ketika bisa mengkhitbahku. Seseorang yang pantang menyerah menyamakan persepsi orang tuanya dengan orang tuaku. Seseorang yang begitu senang memiliki mertua seperti orang tuaku. Seseorang yang tidak pernah malu mengakui kesalahannya. Seseorang yang tidak pernah segan meminta maaf saat melakukan kesalahan. Seseorang yang selalu mengingatkanku dalam kebaikan. Seseorang yang tidak mau melihatku sedih. Seseorang yang akan merasa senang saat aku senang. Seseorang yang akan mendoakan di kala aku sakit. Seseorang yang akan mendengarkan di kala aku punya masalah. Seseorang yang akan cemburu ketika aku berinteraksi dengan lelaki lain. Seseorang yang begitu takut kehilanganku hanya karena giginya patah. Seseorang yang berani mempertanggungjawabkan cintanya padaku dengan ikatan yang Engkau ridhoi. Seseorang yang membuatku merasa begitu dicintai. Seseorang yang insyaAllah akan menuntunku untuk selalu mencintaiMu.

Ya Rabb, ridhoilah ikatan ini. Berkahilah rasa cinta diantara kami. Satukanlah kami, tidak hanya di dunia ini, tapi juga di surga nanti. Aamiin.

Posted from WordPress for Android

Belajar Memahami Takdir

Ada yang bilang aku salah mengambil pilihan dalam hidup. Salahkah? Kurasa tidak. Kuharap tidak. Karena saat memilih aku tidak melupakan Rabbku. Aku pun tidak lupa melakukan istikhoroh sesuai ajaran RasulNya. Lagipula segala sesuatu telah tertulis di Lauhul Mahfudz jauh sebelum manusia diciptakan. Jadi pilihan yang kuambil ini pasti yang terbaik menurut-Nya, insyaAllah.

“… Allah telah menetapkan takdir untuk setiap makhluk sejak lima puluh ribu tahun sebelum penciptaan langit dan bumi” (HR. Muslim no. 2653)

“Tapi kamu tahu dari mana pilihan yang telah kamu pilih saat ini adalah yang terbaik? Kamu tidak tahu kan apa yang akan terjadi kalau kamu memilih pilihan yang kamu tinggalkan? Siapa tahu hasilnya lebih baik dari apa yang kamu dapat sekarang,” ucapnya tidak mau kalah.

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, yang artinya : “Dari Abul Abbas Abdullah bin Abbas dia berkata,”Pada suatu hari aku membonceng di belakang Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam, kemudian Beliau berkata,” Wahai anak, sesungguhnya aku mengajarimu beberapa kalimat, yaitu : jagalah Allah, niscaya Allah akan menjagamu. Jagalah Allah niscaya engkau mendapatiNya dihadapanmu. Apabila engkau meminta, maka mintalah kepada Allah.dan apabila engkau mohon pertolongan maka mohonlah pertolngan kepada Allah. Ketahuilah seandainya seluruh umat berkumpul untuk memberimu satu manfaat, niscaya mereka tidak akan dapat memberimu manfaat kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan untukmu. Dan jika mereka berkumpul untuk memberimu satu bahaya niscaya mereka tidak akan bisa membahayakanmu kecuali dengan sesuatu yang telah Allah tetapkan atasmu. Pena-pena telah diangkat dan tinta telah kering” (H.R Tirmidzi dan berkata hadits hasan shahih)

“Tidak beriman salah seorang dari kalian hingga dia beriman kepada qadar baik dan buruknya dari Allah, dan hingga yakin bahwa apa yang menimpanya tidak akan luput darinya, serta apa yang luput darinya tidak akan menimpanya.” (Shahih, riwayat Tirmidzi dalam Sunan-
nya (IV/451) dari Jabir bin ‘Abdillah radhiyallahu ‘anhu, dan diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dalam Musnad-
nya (no. 6985) dari ‘Abdullah bin ‘Amr. Syaikh Ahmad Syakir berkata: ‘Sanad hadits ini shahih.’ Lihat juga Silsilah al-Ahaadits ash-Shahihah (no. 2439), karya Syaikh Albani rahimahullah)

“Seandainya kamu pilih itu, mungkin hidup kamu akan jadi begini dan begitu,” ucapnya mencoba meyakinkanku.

“Tapi mungkin tidak akan membuatku jadi seperti sekarang ini. Aku suka dengan hidupku yang sekarang,” ucapku yakin.

Seorang mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai oleh Alloh daripada seorang mukmin yang lemah, namun pada semuanya terdapat kebaikan. Hendaklah engkau bersemangat terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mohonlah pertolongan kepada Alloh, dan janganlah
engkau lemah. Jika ada sesuatu menimpamu, maka janganlah engkau mengatakan ”Seandainya aku melakukan, niscaya terjadi ini dan itu”. Tetapi
katakanlah ”Ini adalah takdir Alloh, dan apa yang Dia kehendaki, Dia lakukan”. Sesungguhnya kata ”seandainya” akan membuka perbuatan syetan. [HR. Muslim, no: 2664; Ibnu Majah; dan Ahmad; dari Abu Huroiroh]

Dan saat telah memilih, tugas kita adalah konsekuen dengan hal yang terjadi akibat pilihan-pilihan kita. Kalau ada yang membahagiakan bersyukurlah, kalau ada yang menyedihkan hati bersabarlah. Dan segalanya akan menjadi baik.

Imam Muslim meriwayatkan dari Shuhaib radhiyallahu’anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda, “Sungguh mengagumkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya adalah baik untuknya. Dan hal itu tidak dijumpai kecuali pada diri seorang mukmin. Apabila dia mengalami kesenangan, dia pun bersyukur. Maka hal itu adalah baik untuknya. Dan apabila dia mengalami kesusahan, dia pun bersabar. Maka hal itu pun baik untuknya.” (HR. Muslim [2999])

Wallahu’alam bishshowab

Maraji’:
– muslim.or.id/aqidah/memahami-takdir-dengan-benar.html

– muslimah.or.id/aqidah/iman-kepada-takdir-baik-dan-takdir-buruk.html

– asysyariah.com/usaha-doa-sebab-dan-takdir.html

http://ustadzmuslim.com/seandainya/

http://muslim.or.id/tazkiyatun-nufus/kaya-tanpa-iman.html

Posted from WordPress for Android

Belajar Bersyukur

Suatu hari saat menjelang lebaran. Sebuah rumah sedang kedatangan tamu pasangan muda dengan anaknya yang baru berumur 2,5 tahun.

Pemilik rumah: Ini, ada angpao buat ade. (Sambil menyerahkan amplop kecil bergambar lucu yang berisi uang sekadarnya)
Anak: (mata berbinar, menerima amplop itu dengan raut wajah sumringah yang menggemaskan)
Ibu sang anak: Bilang apa, Nak?
Anak: Maacih (dengan logat cadel)
Ibu dan pemilik rumah: (tersenyum)
Anak: Ni apa, Bu? (Dengan logat cadel, sambil membolak-balik amplop yg “asing” menurutnya, masih dengan wajah sumringah)
Ibu dan pemilik rumah: (tertawa)

Walaupun si anak tidak tahu angpao itu sebenarnya benda apa, apa isinya, bagaimana menggunakannya, tapi dia tetap sumringah. Karena dia berpikir sederhana; dia mendapatkan sesuatu dari seseorang yang dikenal oleh orang tuanya dan dia senang. Andai bisa selalu berpikir seperti ini pada setiap hal yang diberikan olehNya. Semoga kita selalu bisa bersyukur atas semua pemberiaNya.

Posted from WordPress for Android

Hakikat Rezeki

Suatu hari, seorang ayah sedang berbincang santai dengan istri dan anak-anaknya. Saat berbincang santai itu biasanya sang ayah akan menanamkan hal-hal baik yang sederhana tentang kehidupan. Begitu juga dengan hari itu. Sang ayah berbicara tentang hakikat rezeki.

“Rezeki itu nggak cuma berbentuk harta yang melimpah. Punya istri yang bisa mengurus keuangan rumah tangga dengan baik, walaupun uang yang dia kelola tidak banyak; itu rezeki. Punya anak-anak yang sehat dan jarang sakit, punya anak-anak yang cerdas dan lancar pendidikannya; itu rezeki. Punya rumah yang nyaman, suasana rumah yang menyenangkan, meskipun mungil; itu rezeki. Punya kendaraan yang baik, jarang mogok, meski tidak mewah; itu rezeki. Punya tetangga yang ramah dan selalu siap menolong; itu rezeki. Begitu banyak rezeki dan karuniaNya untuk kita. Dan tugas kita ada dua, sabar dan syukur.”

***

*Uhibbuka fillah, Ya Abii.. :)